Showing posts with label Scribble. Show all posts
Showing posts with label Scribble. Show all posts

Sunday, 1 September 2013

Unique People; My Partner in Prime

Sometimes I look at my friends and think to myself, “Where did I meet these crazy people?”. But then I think “What would I do without them?”.


Itulah yang sering kali terlintas dalam pikiran saya ketika teringat mereka: Unique People. Barangkali kalian bertanya apa itu Unique People. Yaa walau tak bertanya sedikit pun, saya akan tetap bercerita tentang itu di sini.

Unique People, ya, makhluk-makhluk unik ini saya temukan sekitar empat tahun lalu, pada tahun 2005. Hehehe... bukan empat ya, tetapi delapan tahun lalu. Saya menemukan mereka di sebuah tempat yang harus selalu saya kunjungi secara rutin mulai tahun 2005 hingga 2009, yaitu kampus saya tercinta: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Begitulah, semenjak berkuliah di UPI saya mengenal orang-orang unik ini. Entah bagaimana mereka bisa begitu lekat dalam ruang hati saya. Unique People bukanlah sekadar teman biasa yang bukan pula teman tapi mesra. Halah! Mereka adalah sahabat dekat yang menjerat lalu melekat erat terikat hingga belikat.

Unique People on Green

Lalu apa yang istimewa dan baik dari mereka? Ini adalah pertanyaan tersulit dalam hidup saya. Sulit karena saking banyaknya hal istimewa yang mereka lakukan, saya sampai sukar mengungkapkannya. Namun, jika pertanyaannya diubah dengan "Apa yang buruk dari mereka?". Jawabannya sangat mudah dan sespontan berkedip: tak ada. Ya! Tak ada sedikit pun yang buruk dari mereka.

Codot

Saya mulai dengan Agung Kurniawan . Kami, Queple, biasa memanggilnya Codot. Dia satu-satunya pria yang terjerumus dalam Qeuple. Di Queple, Codot adalah yang paling kreatif selain saya. Hahahaha... Codot aktif di dunia tater sejak lama. Itulah yang membawanya bergabung dalam salah satu pertunjukan musikal terbesar di Indonesia: Musikal Laskar Pelangi kemudian menjadi salah satu bintang di New Extravaganza .



Irong

Berikutnya Irsa Meila. Kami biasa memanggilnya Irong. Heu walaupun panggilan itu membawa sedikit kenangan buruk, saya yakin Irong takkan pernah jadi cemberut. Begitulah Irong, seburuk apapun keadaan hidupnya, ia tetap tak pernah ambruk. Irong ialah yang paling sabar di antara kami.



Hippo bersama Suami dan Alena

Lalu Putri Vahlepi. Ia lekat dengan panggilan Ceuceu atau Puput, tapi saya sendiri memanggilnya Hippo. Heuheu, persis seperti hippo saat menguap, itulah ia ketika otaknya mulai kekurangan oksigen. Ia yang paling tua dari kami. Ups maaf, yang paling dewasa. Hehehe... Iyakah? Tentu tidak. Ia benar-benar yang tertua, tapi yang paling seperti Si Bungsu. Bagi saya ia sering kali berperan sebagai adik. Adik perempuan satu-satunya yang sangat sering membuat khawatir, was-was, gemas, marah, dan sejenisnya.



Makwow bersama Qisya


Kemudian Wira Apri. Dia orang Lampung. Kami memanggilnya Wo. Sekarang, semenjak ada Qisya (putri pertamanya), panggilannya berubah menjadi MakWow. Makwow sangat... emmhh apa ya? Bukan galak! (Meskipun iya :p). Ia saya nilai sebagai yang paling tegas dalam Queple. Pendapat-pendapatnya tak ayal "menggetarkan" karena penyampaiannya yang lugas dan tajam.




Tata

Next, Rista Destrianti. Tata, begitu Queple memanggilnya. Bagi saya, di Queple, Tata adalah the real my partner in crime. Crime macam apa maksudnya? Hahahaa... Tata adalah anggota Queple yang paling klik dalam "mengangkat alis". Tata yang paling cepat tanggap dalam situasi yang sangat berpeluang menimbulkan kejahilan seru. Celetukannya bisa sangat menghibur dalam situasi yang super tegang, apalagi kalau sudah connetc dengan Codot. Tata yang paling bisa merenyahkan situasi.


Qoi

Selanjutnya, Chorry Sari. Qoi, atau Choy, begitu sebutan dari Queple untuknya. Diam-diam, Qoi adalah yang paling "gak taahaaaaaaan" di antara Queple. Qoi sejak kuliah termasuk yang paling kalem urusan pacar. Oh agak geli ketika menuliskan "pacar" di sini, sepertinya kata itu sudah tak cocok dalam masa kami sekarang. Hehehehe. Back to the topic, Qoi yang paling kalem urusan pacar, tapi ternyata dia yang palung duluan menikah. Ahay....



Nyai dan Suami

Yang ini Nyai atau Rie. Nama aslinya Sri Widiyawati. Nyai nyaris sama seperti Hippo: agak 'kekanakan'. Nyai termasuk yang paling manja. Emosinya mudah tersulut. Owh bahkan saya yakin saat membaca postingan ini pun bibirnya mulai manyun. Hahahahaa. Namun itulah, barangkali candaan kami yang  sangat keterlaluan hingga sering membuatnya kesal lalu pundung.


Windut
Wiwin Herlya. Windut kami memanggilnya. Windut bisa dibilang sebagai kebalikan Tata. Windut tidak gendut, tetapi disebut "ndut". Tata agak "ndut", tapi bukan Tandut. Hehehehe. Selain itu, kalau Tata adalah 'penghidup' suasana dalam candaan maka Windut ialah 'peredup'nya. Mengapa? Karena Windut selalu menjadi yang paling garing menanggapi candaan, tetapi itulah yang membuatnya tetap unik: lucu karena tak lucunya.


Mbak Antie dan saya

Ini Santi Oktaviani. Queple memanggilnya Mbak Antie. Bagi saya, Mbak Antie adalah the missing piece dalam puzzle Queple. Ia pernah ada kemudian hilang. Saya merasa menjadi salah satu penyebab ia menghilang. Tapi bagaimana pun ia tetaplah bagian Queple, tetap sahabat dekat yang menjerat lalu melekat erat terikat hingga belikat.



Terakhir: saya. Saya adalah saya yang bukan siapa-siapa tanpa mereka: Queple. Setelah jarak yang semakin menjauh, seiring delapan tahun kebersamaan, yakin kami tetap dekat. Bukankah jarak ini hanya cara-Nya untuk mempersuakan lewat kumulasi rindu? Maka layaklah saya khususkan menyebut nama kalian, Queple, dalam setiap munajat pada-Nya. Setidaknya, dalam setiap sujud terakhir. Semoga kita didewasakan oleh jarak. Yaa, seperti yang Codot bilang, "You are still one of my greatest supporter, so am I." 

Tuesday, 20 August 2013

Ibu Saya

Ibu saya tak pernah memasak untuk saya dan adik-adik. Beliau pun tak pernah memandikan kami -sekadar menjerangkan air mandi kami, mungkin pernah-. Beliau hanya sesekali menyapu rumah. Beliau selalu lupa mengingatkan kami makan. Akan tetapi, beliau suka sekali menyuapi adik bungsu kami. Beliau tak pernah menanyakan PR kami, apalagi mengingatkan shalat. Beliau... Saya lupa apa lagi yang tak pernah beliau lakukan karena terlalu banyak. Sulit bagi saya untuk mengingatnya. Saya lebih ingat dengan yang pernah beliau lakukan:

Hari itu, sepulang sekolah, saya mendapati beliau sedang berbincang dengan bapak saya. Dari yang saya dengar, beliau pamit pergi ke Jawa untuk menghadiri peringatan setahun kematian kakeknya. Saat itu, bapak saya hanya berpesan agar beliau berhati-hati. Sambil menggendong si bungsu dan menjinjing tas berukuran sedang, beliau melewati saya seraya berkata, "Mamah ke tempat Mbah dulu, Bang.". Saya hanya mengangguk. Si bungsu menggelayut di kain gendongan sembari tersenyum polos, cantik.

Sejak saat itu, saya berpura-pura terbiasa tanpa beliau walaupun ketika beliau ada sesungguhnya beliau tak pernah melakukan apapun untuk saya. Hanya saja ketika melihat beliau ada, saya merasa lebih tenang. Sejak saat itu, setiap makan siang, saya dan adik saya diungsikan ke rumah Ompung. Sejak saat itu, setiap harinya selesai makan siang, Ompung memberi kami bekal untuk makan malam di rumah.

Baru saat itu saya mengerti bahwa bapak saya pria yang sangat baik meskipun Ompung dan saudara lain menilainya lain: pria bodoh kena pelet yang tak pandai membimbing serta memimpin istri. Baru saat itu saya mengerti bahwa beliau, ibu saya, meninggalkan kami: bapak, saya , dan adik. Baru saat itu saya mengerti bahwa ibu saya tak tahan dengan kehidupan keluarga kami: bapak saya hanya pedagang kue yang berkeliling komplek setiap pagi dan sore hari dengan sepeda butut untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Baru saat itu saya mengerti bahwa bapak saya pria yang sangat terhormat karena berkali-kali memaafkan ibu, yang belakangan saya ketahui, berkali-kali pula mengkhianati bapak.

Mulai saat itu saya sadari betul kata-kata Ompung yang selalu terngiang-ngiang, "Abang tidak boleh marah kalau opung dan saudara-saudara lain sering membicarakan keburukan mamakmu. Memang begitu sebenarnya, mamak abang. Nakal, jahat! Kalau nanti di sekolah, abang tidak suka teman-teman menggunjingkan mamakmu, tak usah marah, pergi saja dari situ.". Mulai saat itu untuk pertama dan terakhir kalinya saya menangis tersungkur di paha Ompung. Mulai saat itu saya sadari betul bahwa bapak selalu melakukan hal-hal yang tak pernah ibu lakukan untuk saya dan adik. Mulai saat itu saya sadari betul bahwa bapak ialah ibu yang sesungguhnya bagi saya. Mulai saat itu saya sadari betul bahwa sikap bapak yang memaafkan adalah pilihan terbaik.

Ibu saya tak pernah memasak untuk saya dan adik-adik. Beliau pun tak pernah memandikan kami -sekadar menjerangkan air mandi kami, mungkin pernah-. Beliau hanya sesekali menyapu rumah. Beliau selalu lupa mengingatkan kami makan. Akan tetapi, beliau suka sekali menyuapi adik bungsu kami. Beliau tak pernah menanyakan PR kami, apalagi mengingatkan shalat. Beliau...

 -Terinspirasi dari Sekitar-
140311

Catatan: ompung berarti nenek/kakek. Ditulis ompung, dilafalkan opung.

Doa-Doa Asa


Bapak terlalu jarang pulang. Rumah ini jadi terlalu luas untuk aku dan ibu, padahal bangunan dengan tipe tiga puluh enam ini hanya terdiri atas dua kamar tidur, satu kamar mandi, serta sisanya yang difungsikan sebagai dapur dan sebagian lagi sebagai ruang tamu yang berdampingan dengan ruang teve.
Seharusnya kami sudah cukup ahli menghilangkan sepi yang sudah bertahun-tahun menyubur di rumah ini. Ya, karena memang selama itu pula bapak jarang sekali pulang. Sejak pabrik sepatu tempat bapak bekerja dilanda kebakaran hebat, bapak dipindahtugaskan ke cabang lain di luar kota.

Malam itu kudengar mereka berbincang di meja makan. Jangan bayangkan meja makan kaca lima mili bertaplak indah dengan bordiran halus berbentuk bunga. Ini hanya meja di dapur yang kebetulan masih punya sedikit ruang untuk tempat kami makan bersama. Meja yang di atasnya selalu telungkup tudung saji untuk menutup nasi juga masakan lezat ibu.

Sesungguhnya di usiaku saat itu aku tak begitu paham dengan apa yang mereka perbincangkan. Dari sela tirai pemisah dapur dan ruang teve kulihat kedua tangan bapak yang menggenggam lembut tangan kanan ibu, lalu tangan kiri ibu berpangku di atasnya, tak kalah lembut. Mereka tak banyak bicara, tetapi cahaya mata mereka mengungkap berjuta kata entah apa. Kudengar ibu berkata, “Jarak hanya cara-Nya untuk mempersuakan lewat kumulasi rindu. Hanya dengan rindu persuaan kita akan menjadi lebih cantik. Lalu dalam jarak kita hanya perlu percaya. Setitik senyum dapat membentuk bergaris kekuatan.”
Ah, begitulah mereka jika sedang berduaan. Entah apa maksudnya menyusun kata dengan cara sedemikian rupa hingga membuat dahiku berkerut-kerut. Lalu kulihat keduanya tersenyum. “Maka layaklah kukhususkan menyebut namamu dalam setiap munajatku pada-Nya. Setidaknya, dalam setiap sujud terakhir. Semoga kelak kita didewasakan oleh jarak.” kata bapak sebelum mengecup lembut kening ibu.
*****
Malam takbir. Seminggu lalu bapak mengabari baru bisa pulang di lebaran kedua. Selama bertahun-tahun aku dan ibu menjalani hari sebiasa mungkin. Aku bahkan tak merasa tak terbiasa tanpa bapak. Entah dengan ibu. Kulihat senyumnya tak pernah berubah. Tuturnya selalu santun. Beliau masih sangat menikmati profesinya sebagai guru sekolah dasar yang sebentar lagi pensiun. Penghasilan bapak yang selalu mengalir ke rekening ibu bukan tak cukup untuk hidup kami, tetapi mungkin ini tentang panggilan jiwa. Ibu juga tak menganggap profesinya akan mengurangi optimalisasi konsentrasi beliau terhadap keluarga. Bukan pula karena anaknya hanya aku. Dari polah tutur beliau aku belajar bahwa profesinya sebagai guru serta ibu rumah tangga bukanlah hal yang dapat dipisah-pisahkan. Keduanya sama-sama amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya.

Kami masih duduk sambil mengisi ketupat dengan beras. Di atas kompor, wajan berisi rendang masih mengepul-ngepul. Aromanya memadati seisi rumah. Beginilah suasana malam takbir kami. Tak ada mudik. Ibu lahir dan besar di keluarga nasrani. Beliau memilih menjadi muslimah beberapa hari sebelum menikah dengan bapak. Bukan karena akan menikah dengan bapak yang seorang muslim, melainkan lagi-lagi karena panggilan jiwa. Toh bapak tak pernah sedikitpun meminta atau membahas tentang itu.
Ibu mengaduk rendang sebentar lalu mengecilkan api kompor lainnya yang memangku panci soto bandung. Porsi masakan ibu di setiap lebaran memang lebih banyak dari hari biasa karena selepas sholat ied, Oma dan Opa pasti berkunjung untuk bersilaturahim walau tak ikut merayakan lebaran.
“Kenapa manyun terus, anak ibu? Besok kan lebaran harus penuh senyum.” kata ibu sambil mengelus kepalaku lalu melanjutkan mengisi ketupat.
“Bapak nggak pulang. Semakin berbusalah mulut tetangga ngomongin kita.” Jawabku.

Tangan halus ibu mengangkat sedikit daguku. Menatap mataku. Senyumnya itu yang tak dapat kutampik sangat menyejukkan. Tetapi aku semakin menjadi. Ribuan kata kukeluarkan. Sudah lama memang para tetangga diam-diam membicarakan keluarga kami. Bergunjing tentang hubungan ibu dan bapak yang terpisah jarak. Sampai belakangan kudengar mereka bilang bapak menikah lagi. Dan, ibu tetap biasa. Tidak berubah sedikitpun. Tetap tenang, ramah, santun, dan senyum.

Takbir terus bergema, masakan sudah siap. Kami pindah ke ruang teve. Tak ada nyala teve. Aku masih berkisah tentang segala kaluh kesah, sementara ibu mendengarkan. Kami duduk bersila berhadapan. Mata ibu lincah mengikuti tuturku. Sambil tersenyum, ibu tetap mendengarkan. Aku sangat mengerti arti senyum itu. ibu sangat mengerti saat itu aku hanya ingin didengar. Hanya ibu yang selalu mengerti.
“Tapi Bu, bagaimanapun, kita tidak bisa begitu saja tidak menghiraukan penilaian orang lain kan? Hei, betapa sombongnya kita. Merasa tak perlu dikoreksi atau terkoreksi. Kalau begitu, hidup saja dengan bayangan sendiri. Coba cari di mana tempat itu?”
“Terkadang kita terlalu sensitif, Nak. Merasa setiap mata memandang, setiap telinga mendengar, serta setiap mulut berkata tentang kita. Ketika itu terjadi, kita sedang melangkah menuju eskalator naik krisis kepercayaan diri.” Beliau menaikkan intonasi suaranya di kata ‘terlalu’. Lalu aku tertidur di pangkuannya.
“Mohonlah pada-Nya semoga mereka tak mengalami hal serupamu karena ibu yakin mereka tak setegarmu, kasihan mereka nanti.” Yang ini sangat sayup.
*****
Aku terus bergerak bersama waktu. Bersama bapak yang tidak bisa datang di wisudaku dua tahun lalu. Bersama gunjingan tetangga yang masuk telinga kiri sebentar lalu mental. Juga bersama ibu yang doanya setiap sehabis mendongeng selalu kutiru hingga kini. “Allah yang Mahabaik, terima kasih untuk hari ini. Semoga Engkau masih memberi saya kepercayaan untuk bangun dan melangkah esok. Jangan biarkan saya menjadi pengeluh yang senantiasa menyalahkan keadaan dan orang-orang sekitar, jadikanlah saya hamba-Mu yang selalu bermawas diri. Namun Allahku, jangan jadikan saya golongan orang-orang yang hanya bisa menjadi diri sendiri hanya di saat dirinya sendirian.”
Lalu aku kecil pasti bertanya mengapa doanya panjang sekali dan ibu selalu menjawab mintalah sebanyak-banyaknya, Beliau murah memberi, itu masih pendek. Kemudian aku akan bertanya lagi.
“Kenapa saya, Bu?”
“Supaya tidak aku terus.”

Aku terus bergerak bersama waktu. Hingga aku terbangun. Kudengar gemericik air, kulihat jam dinding. Ibu sedang mengambil wudhu untuk salat malam. Kudengar langkahnya yang mantap, tetapi anggun. Perlahan beliau membuka tirai di ambang pintunya. Jika bapak tak di rumah, pintu kamar beliau memang tak pernah ditutup, apalagi dikunci. Dulu sekali pernah kutanya mengapa dan beliau berseloroh, “Supaya kamu tanya, Nak.”

Aku terus bergerak bersama waktu yang sudah seminggu ini membuatku sulit mengantuk. Sekarang tinggal tiga hari lagi sampai nanti aku harus jarang bertemu ibu. Bagaimana kalau ibu sakit? Siapa yang akan membantunya menguncikan pagar serta pintu dan jendela tiap malam dan membukanya kembali sehabis subuh? Lalu apa yang harus dilakukan segelas susu di pagi hari jika tak ada aku yang meminumnya? Kemudian di mana ibu akan meletakkan surat kabar pagi jika aku tak lagi duduk di sudut ruang teve untuk rutin membacanya?
Ah, ibu. Bahkan mengkhawatirkanmu sesungguhnya adalah mengkhawatirkan diriku sendiri.
*****
Hari itu datang. Hari di mana selama dua tahun belakangan aku bertahan dan menunggu sambil melaikkan diri agar menjadi baik ketika bersanding nanti, pantas untuk berada di sampingnya, anggun untuk melangkah bersamanya, serta layak dipercaya untuk mendapinginya. Ia sangat mengerti aku juga tidak ingin terburu-buru, sama sepertinya. Karena seperti yang kami lihat, akhirnya nanti kami harus mandiri. Hari itu datang. Tanpa terburu-buru.
“Semoga segala niat baik dapat terlaksana dengan penuh berkah dan rida Mahacinta.” Bisik ibu sebelum mengantarku duduk bersimpuh di hadapan kadi. Di sebelahku ada ia yang berseberangan dengan bapak yang sama-sama siap berijab-qobul.
Kulirik ibu untuk memohon kekuatan. Satu anggukan halus sangat membantuku. Semalam, selepas salat berjamaah ibu berkata, “Pergilah, cari rumahmu. Tempatmu pulang. Karena tanpa pergi, kau tak dapat pulang.”
Ibu, hidupku dipenuhi doamu. Hanya lewat doa kita terkoneksi. Benang-benang transparan itu sekejap terhubung saat kau dan aku memohon padanya tentang apapun termasuk agar jika kelak kita terpisah, jaraknya akan dipersempit. Hanya lewat doa aku dapat menyentuhmu. Menyentuh hatimu.
Entah, apa doa ibu masih menyentuh hati bapak yang selepas ini pulang ke rumah kedua.
*****
Dibuat 30 Oktober 2012

Friday, 19 April 2013

Saya Seorang 'Newbie' yang 'Baru'

Hallo Kawan,
Barangkali beginilah yang dirasakan setiap newbie; kikuk, kagok, risih. Saya masih kikuk dengan segala jenis kolom dan kode dalam dunia blog ini. Saya sangat kagok karena ketika mengetik setelah titik huruf berikutnya tidak kapital secara otomatis. Saya juga risih dengan seseorang di arah jam satu di ruangan saya sekarang karena dia terus memandangi saya. Ya Tuhan, bahkan di ke-newbie-an saya ini kalian langsung tahu bahwa saya adalah makhluk yang gede rasa. Yaa tak apalah, saya sendiri memang merasa sebagai makhluk paling GR-an sedunia.

Ya, seperti judul yang saya buat, saya ini memang seorang newbie. Newbie yang benar-benar baru. Terbayangkankah? Sudah disebut newbie, masih baru pula. Sebagai newbie saya merasa saya harus banyak belajar. Bukan hal yang spesial kan ketika kita merasa berada di lingkungan baru maka kita otomatis akan lebih dulu menahan diri dan memilih untuk mencoba mengamati sekeliling.

Itulah, yang saya amati sekarang masih seseorang di arah jam satu tadi. Tentunya saya mengamatinya diam-diam. Saya sedang pura-pura sibuk mengetik, padahal sesungguhnya sedang saya amati dia. Kemudian kalian tertipu karena saya justru sedang sibuk kikuk mengetik sambil pura-pura mengamati seseorang di arah jam satu.

Setelah itu, secara sadar saya mulai GR lagi karena saya menyebut pembaca saya 'kalian', padahal belum tentu yang membaca itu 'banyak orang'. Lalu sebagian atau seluruh dari kalian mulai malas membaca ini. Jika demikian, berarti misi saya berhasil.

Baiklah, apapun yang saya tulis, sebagai newbie saya hanya akan bersikap senyaman mungkin. Newbie dalam hal apapun. Tak akan saya pikirkan bagaimana 'penampakan' saya di mata makhluk lain, padahal ketika saya katakan itu, berarti saya sedang atau telah memikirkannya. Lagi, yang penting saya nyaman sebagai newbie yang kikuk, kagok, atau risih. Bukankah dari newbie seharusnya kita menjelma oldie? Dan ah! Oldie itu istilah yang begitu saja terlontar dari jemari saya. Saya kurang paham apakah memang ada istilah itu dalam dunia persilatan blog ini (saya belum googling). Terima kasih :)